
"Tidak, Mama. Tidak ada orang yang tidak suka pada pujian, kata guruku. Kalau orang merasa terhina karena dipuji, katanya pula, tandanya orang itu berhati culas."
(Minke)
"Cinta itu indah, Minke, terlalu indah, yang bisa didapatkan dalam hidup manusia yang pendek ini,"
(Jean Marais)
"Cinta itu indah, Minke, juga kebinasaannya yang mungkin membuntutuinya. Orang harus berani menghadapi akibatnya,."
(Jean Marais)
"... ... ... ... Bukan aku yang menentukannya. Lagi pula tak ada cinta yang muncul mendadak, karena dia adalah anak kebudayaan, bukan batu dati langit. ... ... "
(Jean Marais)
"Kau benar, Minke. Pernah kuceritai kau, kasihan hanya perasaan orang berkemauan baik yang tidak mampu berbuat. Kasihan hanya suatu kemewahan, atau satu kelemahan. Yang terpuji memang dia yang mampu melakukan kemauan-baiknya. Aku tak punya kemampuan, Minke. Makin lama kurenungkan, kata itu sangat indah terasa di Hindia ini, tidak di Eropa."
(Jean Marais)
May Marais : "Lihat sana itu, Oom, di atas mendung mendatang itu, masa layang-layang seperti kepiting!"
Minke : "Memang tidak cocok kalau kepiting terbang di langit. Mendung semakin tebal,
May, mari pulang."
Annelies Mellema : "Mama, pernah Mama berbahagia?"
Nyai Ontosoroh : "Biar pun pendek dan sedikit setiap orang pernah, Ann."
" .. .. cerita tentang kesenangan selalu tidak menarik. Itu bukan cerita tentang manusia dan kehidupannya, tapi tentang surga, dan jelas tidak terjadi di atas bumi kita ini."
(Nyai Ontosoroh)
"Lelaki, Gus, soalnya makan, entah daun entah daging. Asal kau mengerti, Gus, semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain. Harus semakin mengenal batas. Kan itu tidak terlalu sulit difahami? Kalau orang tak tahu batas, Tuhan akan memaksanya tahu dengan caraNya sendiri."
(Bunda Minke)
"Pada waktu aku hamilkan kau, aku bermimpi seorang tak kukenal telah datang memberikan sebilah belati. Sejak itu aku tahu, Gus, anak dalam kandungan itu bersenjata tajam. Berhati-hati menggunakannya. Jangan sampai terkena dirimu sendiri."
(Bunda Minke)
".. .. Kau akan berhasil dalam setiap pelajaran, dan kau harus percaya akan berhasil, dan berhasillah kau; anggap semua pelajaran mudah, dan semua akan jadi mudah; jangan takut pada pelajaran apa pun, karena ketakutan itu sendiri kebodohan awal yang akan membodohkan semua."
Tuan Télinga : "Perang selamanya adu kekuatan dan muslihat untuk keluar sebagain pemenang,"
Jean Marais : "Tidak, Tuan Télinga, tak pernah ada perang untuk perang. Ada banyak bangsa yang berperang bukan hendak keluar sebagai pemenang. Mereka turun ke medan-perang dan berguguran berkeping-keping seperti bangsa Aceh sekarang ini... ada sesuatu yang dibela, sesuatu yang lebih berharga dari pada hanya mati, hidup, atau kalah-menang."
"...ingat, kesan pertama, betapapun penting, belum tentu benar."
(Juffrow Magda Peters)
"Nanti kita akan sampai juga. Barangkali sudah sejak Hawa kecantikan mengampuni kekurangan dan cacat seseorang. Kecantikan mengangkat wanita di atas sesamanya, lebih tinggi, lebih mulia. Tetapi kecantikan, bahkan hidup sendiri menjadi sia-sia bila dikuasai ketakutan. Kalau Tuan belum mengerti juga, inilah soalnya: dia harus dibebaskan dari ketakutan, semua ketakutan itu."
(Dokter Martinet)
"Kan sudah tak terlalu panas? LIhat, Tuan Minke, dalam kehidupan ilmu tak ada kata malu. Orang tidak malu karena salah atau keliru. Kekeliruan dan kesalahn justru akan memperkuat kebenaran, jadi juga membantu penyelidikan."
(Dokter Martinet)
"Dalam ilmu, malu tidak punya harga, biarpun hanya sepersepuluh dari sepersepuluh sen. ... "
(Dokter Martinet)
"Dapat dimengerti. Hanya orang pandir mengaggumi diri sendiri. ..."
(Jean Marais)
"... Mantap-tidaknya kedewasaan dan nilai tergantung pada besar-kecilnya dan banyak-sedikitnya ujian, cobaan--si kriminal dan si gila itu--tidak pernah dewasa."
(Dokter Martinet)
"Aku bukan gila. Juga bukan kriminil. Dan tak bakal!"
"...... dimana panas matahari ditanggung semua orang tapi panas hati ditanggung seorang diri."
"Rebut bunga kecantikan, karena mereka disediakan untuk dia yang jantan. Juga jangan jadi kriminil dalam percintaan--yang menaklukan wanita dengan gemerincing ringgit, kilau harta dan pangkat."
(Bunda Minke)
"Aduh, Gus, mengapa kau menggubah bahasa yang bunda tak mengerti? Tulislah, Gus, kisah percintaannmu, dalam tembang nenek-moyangmu, pangkur, kinanti, durma, gambuh, megatruh, biar Bunda dan seluruh negeri menyanyikannya."
(Bunda Minke)
Bunda Minke : "Gus, baik benar peruntunganmu, dapatkan istri secantik itu. Di jaman leluhurmu, perempuan seindah itu bisa terbitkan perang Bharatayuddha."
Minke : "Apa Bunda kira sahaya tidak berperang untuk bisa mendapatkannya?"
"Uh, Darsam, seribu orang seperti kau, dengan dua ribu parang sekaligus, takkan mampu menolong kami. Bukan soal daging dan baja, Darsam. Ini soal hak, hukum, dan keadilan--tak dapat kau lindungi dengan silat dan parangmu. Tiba tiba datang bantahan: kau harus adil sudah sejak dalam pikiran, Nyo! Jangankan Darsam yang berparang dan pendekar, batu-batu bisu pun bisa membantumu-- kalau kau mengenal mereka. Jangan sepelekan kemampuan satu orang, apalagi dua!"
"Ya, tidurlah, Tuanmuda. Hari baru, kemungkinan baru."
(Darsam)
"....... apakah guna sekolah-sekolah didirikan kalau toh tak dapat mengajarkan mana hak mana tidak, mana benar dan mana tidak?"
"Apa masih perlu orang yang akan kehilangan segalanya bersikap sopan menghadapi kehilangannya? Katakan saja apa yang hendak Tuan maui."
(Nyai Ontosoroh)
"Kalau di Nederland sana ada segalanya, untuk apa orang Eropa datang kemari?"
(Nyai Ontosoroh)
mm..
RépondreSupprimerguah ngerasa uda turun ke banyak banget peperangan, dan guah rasa perang dalam nilai-nilai Islam cuma berarti "menuju kemenangan.."
ini sedikit kritik buat ananta..
bagi guah, seorang guerrière (pejuang, orang yang berperang) harus selalu tau kalo ada yang namanya "pertempuran" ("bataille", "battle") dan "peperangan" ("war", "guerre")..
nah, rakyat aceh yang mereka bicarakan itu, menurut guah mereka gag turun ke medan laga untuk kalah dalam peperangan..
cuz peperangan mereka adalah untuk mencari kemerdekaan kan?
mereka mungkin turun ke medan pertempuran untuk kalah.. tapi guah yakin banyak dari mereka akhirnya mendapat tujuan dari peperangan yang selama ini mereka perjuangkan..
guah yakin yang meninggal dapet kebebasan.. dan yang tinggal dapet kemerdekaan atas penjajahan, pada akhirnya.. :),
we live in the middle of wars.. :),
Ce commentaire a été supprimé par l'auteur.
RépondreSupprimeryah, walopun pada akhirnya guah ngerti sama apa yang beliau coba sampaikan pada kalimatnya itu..
RépondreSupprimerguah cuma ngasi lyat sudut pandang lain terhadap definisi yang beliau coba tawarkan.. :),
diluar itu : "this is what I call sastra.. :),"