"Barang mati sih bisa dibeli, orang duit mah bisa dicari. Tapi kalo perasaan, gimana cara belinya?"
(A spectacular Sundanese single mother of 3 daughters)
Second day of the week, sangat relaxing. Man, ini nih, yang selalu bikin worried dan wondering kalau hidup kita terlalu gampang dan enak. Bowling, afternoon tea/coffee dengan permainan bodoh with two good friends in one fine coffee shop, lalu birthday dinner of keju Mont d'Or dan hot potatoes. Life's good. Salah, Life's good? Yes, itu dipertanyakan selama beberapa jam sepulang dari my friend's birthday dinner. Sampai akhirnya gue menjatuhkan kepala gue di bantal dan sofa-bed tercomfy sedunia...... and I dozed off..
.........dan terbangun. I was wondering mengapa jantung gue berdetak so darn fast dari sebelum gue tertidur. Dikarenakan pertanyaan itu kah? Life's good? Teteup lho. Masih ditanya. Mencoba kembali tidur tetapi hati dan pikiran kayaknya terlalu occupied untuk undur diri dan membiarkan gue istirahat. Tidur malam lebih tepatnya. Pasti bapak gue cuman bisa nyengir sambil nyeletuk, "Dasar insom". Setelah beberapa menit mencoba tidur kembali dan gagal, akhirnya gue memutuskan untuk mengeluarkan kalimat super cliché untuk sobat gue yang tidur di sebelah gue, "Udah tidur jek?"
Obviously, the answer was a NO.
Siaran berlangsung. Bahasan kali ini dilakukan seperti kue bantet with a pretty and good frosting. Something thats so hard, and quite hurtful to say; but we wrapped it with laughs and jokes. Seperti anak muda Jakarta yang kebanyakan negak tequila shots, kekhawatiran dan kesedihan yang mendalam tiba2 dimuntahin. Kita diuji untuk percaya satu sama lain dan untuk bisa dipercaya di waktu yang sama. Bayangin dua orang yang sebenarnya berbeda, tetapi tetap menganggap kalau salah satu dari kita itu bayangan dari cermin. Ngga jelas ya? Dengan segala perbedaan yang dua orang ini punya, mereka saling melengkapi. Ih gila, yang menciptakan friendship emang jenius.. A story leads to another story, mulut kita tuh emang terlalu aktif (kalo ngga ngomong, ya makan.) Tantangannya cukup oke: keeping one's trust. Ya efektif lah ada tantangan giving one's trust juga. A quite jaw dropping story terjadi, di dalam pause yang selalu ada di tiap revealing story, jantung gue ternyata tetap masih berdetak super kencang (sorry if I sounded like Ahmad Dhani, didn't mean to). In that small pause of silence, dateng lagi dia.. pertanyaan yang -percaya ngga percaya- memacu adrenalin.. "Life's good?"
Life's good? ... Life's good?
Mata yang udah setengah watt melirik ke jam, "Jam 6 pagi pemirsa.." ..and I dozed off..
....
Tau perasaan dimana kita baru enak tidur terus tiba2 alarm sudah bunyi? Yes. 8.15am. Shower, coffee, class at 9.30am.
"Life's good?" Hm, kalo iya pun, itu bukan karena hal2 asyik di dalamnya seperti a day of bowling dan chit-chatting. Atau traveling through Europe. Atau melihat menara Eiffel. Itu semua cuman buah ceri dan whipped cream diatas ice cream sundae kita.
Dalam hanya beberapa jam malam itu, gue mendapatkan hal yang fiktif untuk didapatkan di sekolah. Perasaan lega karena sudah meluapkan isi hati, perasaan dihargai sebagai teman, perasaan dipercaya dan mencoba mempercayai. Pikiran yang lebih terbuka (from any aspect dan untuk segala hal juga). Perasaan mensyukuri atas apa yang kita punya. Perasaan yang membuat kita bisa bilang "Gue sayang jek ama keluarga gue" atau "Iya ni, makanya gue sayang ama elo jek". Even perasaan yang unexpectedly membuat realise banyak hal2 yang juga unexpected, agama.. kepercayaan.. (dan perasaan ngga puguh dan ngantuk di dalam kelas dikemudian harinya..)
bisa dibeli pake uang?
Yang dibalik layar emang Juara. Emang Jenius. Hm, I wonder.. asmaul husna yang mana ya untuk Juara dan Jenius?
Converse shoes on, favorite coat on, and oh, sunglasses, all checked. Bono menyanyi dengan mantaF di lagu Beautiful Thing-nya in my iPod. Hm, another sunny winter morning.
Life IS good.




